NextTo Bottom

Ads 468x60px

Advertisement by Aktivis Pasus Waled Advertisement by Aktivis Pasus Waled
Advertisement by Aktivis Pasus Waled

Tampilkan postingan dengan label Sejarah Indonesia. Tampilkan semua postingan

Tampilkan postingan dengan label Sejarah Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 November 2011

Rating: 5.0
Reviewer: KangFirm

Batik Indonesia: Khas Daerah Cirebon

|
di Cirebon, Jawa Barat, Indonesia belum ada komentar
 
I Love Batik Indonesia

Aktivis Paskibra Waled Creations

Assalaamu'alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh

Batik Cirebon adalah penulisan gambar pada media apapun sehingga terbentuk sebuah corak dan seni. Untuk pengertian batik Menurut bahasa sendiri berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan “malam” (wax) yang diaplikasikan ke atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna (dye), atau dalam Bahasa Inggris disebut “wax-resist dyeing“.

Sejarah: Batik Indonesia
Menurut sejarah, batik Cirebon secara turun temurun berasal dari nenek moyang kita zaman dahulu yang mengatakan bahwa membatik (membuat batik) adalah suatu keterampilan yang kemudian menjadi mata pencaharian bagi kaum perempuan remaja dan dewasa pada waktu itu. Pada masa kini, kondisi pembuatan batik Cirebon masih termasuk dalam taraf manual (menggunakan tangan) atau disebut dengan istilah canthing. Sebelum akhirnya masuk zaman yang lebih modern, yaitu ditemukannya pembuatan batik dengan media cap atau mesin.

Untuk pembuatan batik Cirebon yang menggunakan media cap inilah, yang memungkinkan peranan kaum lelaki untuk turut-serta terjun didalamnya.

Proses Pembuatan Batik

Untuk batik dengan media kain, pada proses pembuatannya terdapat beberapa langkah yang harus dikerjakan dalam pembuatan batik Cirebon, diantaranya :
  1. Pemotongan bahan baku (mori) sesuai dengan kebutuhan.
  2. Mengetel; menghilangkan kanji dari mori dengan cara membasahi mori tersebut dengan larutan minyak kacang, soda abu, tipol dan air secukupnya – lalu mori diuleni. Setelah rata, mori dijemur sampai kering lalu diuleni lagi dan dijemur kembali. Proses ini diulang-ulang hingga 3 (tiga) minggu lamanya, lalu di cuci sampai bersih. Proses ini dimaksudkan agar zat warna bisa meresap ke dalam serat kain dengan sempurna.
  3. Nglengreng; proses menggambar langsung pada kain.
  4. Isen-isen; memberi variasi pada ornamen (motif) yang telah di lengreng.
  5. Nembok; menutup (ngeblok) bagian dasar kain yang tidak perlu diwarnai.
  6. Ngobat; mewarnai batik yang sudah ditembok, yaitu dengan cara dicelupkan pada larutan zat warna.
  7. Nglorod; menghilangkan zat lilin dengan cara direbus dalam air mendidih (proses finishing).
  8. Pencucian; setelah lilin lepas dari kain, lalu dicuci sampai bersih dan kemudian dijemur.

Menurut para sejarawan seni budaya Indonesia khususnya di bidang batik, mengatakan bahwa terdapat beberapa pendapat yang berkembang mengenai asal muasal batik Cirebon.



Wassalaamu'alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh

Minggu, 11 September 2011

Rating: 5.0
Reviewer: KangFirm

Sejarah Indonesia: Lagu Indonesia Raya

|
belum ada komentar
 

Sejarah Indonesia: Lagu Indonesia Raya

Lagu Indonesia Raya adalah lagu yang tidak asing lagi bagi bangsa Indonesia, terutama bagi aktivis paskibra dan anggota Paskibraka. Lagu yang merupakan lagu kebangsaan bangsa Indonesia ini selalu mengiringi dalam setiap event dan kegiatan di negeri ini, terutama pada upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi.

Lagu yang diciptakan oleh Wage Rudolf Soepratman ini dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 tepatnya pada saat kongres Pemuda II di Batavia (sekarang DKI Jakarta) tanggal 28 oktober 1928. Wage Rudolf Supratman menuliskan dengan jelas kalimat "lagu kebangsaan" dibawah judul Indonesia Raya. Teks lagu Indonesia Raya, pertama kali dipublikasikan oleh Surat kabar Sin Po yang merupakan sebuah surat kabar Tionghoa namun berbahasa Melayu. Harian ini pula yang turut serta mempelopori penggunaan kata Indonesia menggantikan sebutan Hindia Belanda.

Berikut ini sejarah perjalanan Lagu Indonesia Raya yang di muat di id.wikipedia.org Sejarah lagu Indonesia Raya Ketika mempublikasikan Indonesia Raya tahun 1928, Wage Rudolf Soepratman dengan jelas menuliskan "lagu kebangsaan" di bawah judul Indonesia Raya. Teks lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali oleh suratkabar Sin Po, sedangkan rekaman pertamanya dimiliki oleh seorang pengusaha bernama Yo Kim Tjan.

Setelah dikumandangkan tahun 1928 dihadapan para peserta Kongres Pemuda II dengan biola, pemerintah kolonial Hindia Belanda segera melarang penyebutan lagu kebangsaan bagi Indonesia Raya. Meskipun demikian, para pemuda tidak gentar. Mereka menyanyikan lagu itu dengan mengucapkan "Mulia, Mulia!" (bukan "Merdeka, Merdeka!") pada refrein. Akan tetapi, tetap saja mereka menganggap lagu itu sebagai lagu kebangsaan.[1]

Selanjutnya lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan pada setiap rapat partai-partai politik. Setelah Indonesia merdeka, lagu itu ditetapkan sebagai lagu Kebangsaan perlambang persatuan bangsa. Namun pada saat menjelaskan hasil Festival Film Indonesia (FFI) 2006 yang kontroversial dan pada kompas tahun 1990-an, Remy Sylado, seorang budayawan dan seniman senior Indonesia mengatakan bahwa lagu Indonesia Raya merupakan jiplakan dari sebuah lagu yang diciptakan tahun 1600-an berjudul Lekka Lekka Pinda Pinda.

Kaye A. Solapung, seorang pengamat musik, menanggap tulisan Remy dalam Kompas tanggal 22 Desember 1991. Ia mengatakan bahwa Remy hanya sekadar mengulang tuduhan Amir Pasaribu pada tahun 1950-an. Ia juga mengatakan dengan mengutip Amir Pasaribu bahwa dalam literatur musik, ada lagu Lekka Lekka Pinda Pinda di Belanda, begitu pula Boola-Boola di Amerika Serikat. Solapung kemudian membedah lagu-lagu itu. Menurutnya, lagu Boola-boola dan Lekka Lekka tidak sama persis dengan Indonesia Raya, dengan hanya delapan ketuk yang sama. Begitu juga dengan penggunaan Chord yang jelas berbeda. Sehingga, ia menyimpulkan bahwa Indonesia Raya tidak menjiplak.

Naskah pada koran Sin Po (1928) Lagu Indonesia Raya diciptakan oleh WR Supratman dan dikumandangkan pertama kali di muka umum pada Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 di Jakarta (pada usia 25 tahun), dan disebarluaskan oleh koran Sin Po pada edisi bulan November 1928. Naskah tersebut ditulis oleh WR Supratman dengan Tangga Nada C (natural) dan dengan catatan Djangan Terlaloe Tjepat, sedangkan pada sumber lain telah ditulis oleh WR Supratman pada Tangga Nada G (sesuai kemampuan umum orang menyanyi pada rentang a - e) dan dengan irama Marcia, Jos Cleber (1950) menuliskan dengan irama Maestoso con bravura (kecepatan metronome 104).

Aransemen simfoni Jos Cleber (1950): Secara musikal, lagu ini telah dimuliakan —justru— oleh orang Belanda (atau Belgia) bernama Jos Cleber (pada waktu itu ia berusia 34 tahun) yang tutup usia tahun 1999 pada usia 83 tahun. Setelah menerima permintaan Kepala Studio RRI Jakarta Jusuf Ronodipuro pada tahun 1950, Jos Cleber pun menyusun aransemen baru yang penyempurnaannya ia lakukan setelah juga menerima masukan dari Presiden Soekarno.

Rekaman asli (1950) dan rekam ulang (1997): Rekaman asli dari Jos Cleber tahun 1950 dari Orkes Cosmopolitan Jakarta, telah dimainkan dan direkam kembali secara digital di Australia tahun 1997 berdasarkan partitur Jos Cleber yang tersimpan di RRI Jakarta, oleh Victoria Philharmonic di bawah pengarahan Addie MS.

Lagu Indonesia Raya Terdiri dari 3 (tiga) stansa, sementara yang sering kita dengar dalam upacara upacara resmi adalah stansa pertama. Dan seiring perjalanan bangsa Indonesia, terdapat beberapa perubahan terutama dalam lirik dan ejaan yang dipergunakan, berikut untuk lebih lengkapnya.

Lirik Asli (1928)

INDONESIA RAJA

    • Indonesia, tanah airkoe,
    • Tanah toempah darahkoe,
    • Disanalah akoe berdiri,
    • Mendjaga Pandoe Iboekoe.

    • Indonesia kebangsaankoe,
    • Kebangsaan tanah airkoe,
    • Marilah kita berseroe:
    • "Indonesia Bersatoe".

    • Hidoeplah tanahkoe,
    • Hidoeplah neg'rikoe,
    • Bangsakoe, djiwakoe, semoea,

    • Bangoenlah rajatnja,
    • Bangoenlah badannja,
    • Oentoek Indonesia Raja.

    • Indonesia, tanah jang moelia,
    • Tanah kita jang kaja,
    • Disanalah akoe hidoep,
    • Oentoek s'lama-lamanja.

    • Indonesia, tanah poesaka,
    • Poesaka kita semoea,
    • Marilah kita mendoa:
    • "Indonesia Bahagia".

    • Soeboerlah tanahnja,
    • Soeboerlah djiwanja,
    • Bangsanja, rajatnja, semoeanja,

    • Sedarlah hatinja,
    • Sedarlah boedinja,
    • Oentoek Indonesia Raja.

    • Indonesia, tanah jang soetji,
    • Bagi kita disini,
    • Disanalah kita berdiri,
    • Mendjaga Iboe sedjati.

    • Indonesia, tanah berseri,
    • Tanah jang terkoetjintai,
    • Marilah kita berdjandji:
    • "Indonesia Bersatoe"

    • S'lamatlah rajatnja,
    • S'lamatlah poet'ranja,
    • Poelaoenja, laoetnja, semoea,

    • Madjoelah neg'rinja,
    • Madjoelah Pandoenja,
    • Oentoek Indonesia Raja.

  • Refrain:
    • Indones', Indones',
    • Moelia, Moelia,
    • Tanahkoe, neg'rikoe jang koetjinta.

    • Indones', Indones',
    • Moelia, Moelia,
    • Hidoeplah Indonesia Raja.

Lirik Resmi (1958)

INDONESIA RAJA

    • Indonesia tanah airku,
    • Tanah tumpah darahku,
    • Disanalah aku berdiri,
    • Djadi pandu ibuku.

    • Indonesia kebangsaanku,
    • Bangsa dan tanah airku,
    • Marilah kita berseru,
    • Indonesia bersatu.

    • Hiduplah tanahku,
    • Hiduplah neg'riku,
    • Bangsaku, Rajatku, sem'wanja,

    • Bangunlah djiwanja,
    • Bangunlah badannja,
    • Untuk Indonesia Raja.

    • Indonesia, tanah jang mulia,
    • Tanah kita jang kaja,
    • Disanalah aku berdiri,
    • Untuk s'lama-lamanja.

    • Indonesia, tanah pusaka,
    • P'saka kita semuanja,
    • Marilah kita mendoa,
    • Indonesia bahagia.

    • Suburlah tanahnja,
    • Suburlah djiwanja,
    • Bangsanja, Rajatnja, sem'wanja,

    • Sadarlah hatinja,
    • Sadarlah budinja,
    • Untuk Indonesia Raja.

    • Indonesia, tanah jang sutji,
    • Tanah kita jang sakti,
    • Disanalah aku berdiri,
    • Ndjaga ibu sejati.

    • Indonesia, tanah berseri,
    • Tanah jang aku sajangi,
    • Marilah kita berdjandji,
    • Indonesia abadi.

    • S'lamatlah rakjatnja,
    • S'lamatlah putranja,
    • Pulaunja, lautnja, sem'wanja,

    • Madjulah Neg'rinja,
    • Madjulah pandunja,
    • Untuk Indonesia Raja.

  • Refrain:
    • Indonesia Raja,
    • Merdeka, merdeka,
    • Tanahku, neg'riku jang kutjinta!

    • Indonesia Raja,
    • Merdeka, merdeka,
    • Hiduplah Indonesia Raja.

Lirik Modern

INDONESIA RAYA

    • Indonesia tanah airku,
    • Tanah tumpah darahku,
    • Di sanalah aku berdiri,
    • Jadi pandu ibuku.

    • Indonesia kebangsaanku,
    • Bangsa dan tanah airku,
    • Marilah kita berseru,
    • Indonesia bersatu.

    • Hiduplah tanahku,
    • Hiduplah neg'riku,
    • Bangsaku, Rakyatku, semuanya,

    • Bangunlah jiwanya,
    • Bangunlah badannya,
    • Untuk Indonesia Raya.

    • Indonesia, tanah yang mulia,
    • Tanah kita yang kaya,
    • Di sanalah aku berdiri,
    • Untuk s'lama-lamanya.

    • Indonesia, tanah pusaka,
    • P'saka kita semuanya,
    • Marilah kita mendoa,
    • Indonesia bahagia.

    • Suburlah tanahnya,
    • Suburlah jiwanya,
    • Bangsanya, Rakyatnya, semuanya,

    • Sadarlah hatinya,
    • Sadarlah budinya,
    • Untuk Indonesia Raya.

    • Indonesia, tanah yang suci,
    • Tanah kita yang sakti,
    • Disanalah aku berdiri,
    • N'jaga ibu sejati.

    • Indonesia, tanah berseri,
    • Tanah yang aku sayangi,
    • Marilah kita berjanji,
    • Indonesia abadi.

    • S'lamatlah rakyatnya,
    • S'lamatlah putranya,
    • Pulaunya, lautnya, semuanya,

    • Majulah Neg'rinya,
    • Majulah pandunya,
    • Untuk Indonesia Raya.

  • Refrain:
    • Indonesia Raya,
    • Merdeka, merdeka,
    • Tanahku, neg'riku yang kucinta!

    • Indonesia Raya,
    • Merdeka, merdeka,
    • Hiduplah Indonesia Raya.
coba perhatikan video berikut:

Senin, 29 Agustus 2011

Rating: 5.0
Reviewer: KangFirm

Sejarah: Batik Indonesia

|
di Cirebon, Jawa Barat, Indonesia baru ada 1 komentar
 

Aktivis Paskibra Waled Creations
Sejarah: Batik Indonesia

Assalaamu'alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh

Batik Indonesia – secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII, yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Pada saat itu, motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman.

Namun dalam sejarah perkembangannya, batik mengalami peningkatan yang signifikan; yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman yang lambat-laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.

Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya bangsa Indonesia yang demikian kaya, telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisional dengan ciri kekhususannya sendiri.

Perkembangan Batik di Indonesia

Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.

Sejarah: Batik Indonesia
Kesenian batik merupakan kesenian gambar/melukis diatas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya, batik dikerjakan hanya terbatas dalam keraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya.
Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar keraton, maka kesenian batik ini dibawa keluar keraton oleh mereka dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Dalam perkembangannya, lambat-laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana – kemudian menjadi pakaian rakyat yang sangat digemari, baik oleh kalangan wanita maupun pria.

Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedangkan bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri, antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila dan bahan sodanya dibuat dari soda abu serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Jadi, kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia, khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX.

Sejarah: Batik Indonesia
Sampai pada awal abad ke-XX, batik yang dihasilkan ialah (semuanya) batik tulis dan batik cap baru dikenal setelah usai perang dunia kesatu (PD I) atau sekitar tahun 1920.

Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia dan pada hari Jumat tanggal 2 Oktober tahun 2009, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menetapkan batik sebagai warisan budaya milik Indonesia. Hari yang dinanti-nantikan oleh seluruh penduduk ini-pun dijadikan sebagai Hari Batik.

Motif Batik di Indonesia

Berikut ini adalah beberapa contoh dari beberapa motif batik asli dari Indonesia

Motif Batik Indonesia

Motif Batik Indonesia

Demikian informasi ini ditulis dan disajikan, semoga dapat bermanfaat bagi semua kalangan; khususnya para pengunjung dan pembaca setia artikel² Aktivis Paskibra Waled.

Wassalaamu'alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh

Sabtu, 19 Juni 2010

Rating: 5.0
Reviewer: Kang MPIM theA

Budaya Indonesia: Sejarah Pembangunan Monas

|
di Waled, Cirebon, West Java, Indonesia belum ada komentar
 
Aktivis Paskibra Waled

Aktivis Paskibra Waled Creations

Assalaamu'alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh

Monumen Nasional yang terletak di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, dibangun pada dekade 1920-an.

Tugu Peringatan Nasional dibangun di areal seluas 80 hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961, dan diresmikan 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto.

Pembangunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terbangkitnya inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.

Tugu Monas yang menjulang tinggi dan melambangkan lingga (alu atau anatan) yang penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Semua pelataran cawan melambangkan Yoni (lumbung). Alu dan lumbung merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir di setiap rumah penduduk pribumi Indonesia.

Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur.

Monas
Aktivis Paskibra Waled
Letak Jakarta Pusat, Indonesia
Pembangunan Monas
Dimulai 17 Agustus 1961
Tinggi 132 meter
Kontraktor Utama Adhi Karya
Tim Perancang
Arsitek Frederich Silaban, R.M. Soedarsono

Konstruksi dan Pameran

Bentuk Tugu peringatan yang satu ini sangat unik. Sebuah batu obeliks yang terbuat dari marmer yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan ini tingginya 132 meter.

Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 Kilogram. Lidah api atau obor ini sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan.

Pelataran puncak dengan luas 11x11 dapat menampung sebanyak 50 pengunjung. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Arah ke selatan berdiri dengan kokoh dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil berserakan. Bila menoleh ke Barat membentang Bandara Soekarno-Hatta yang setiap waktu terlihat pesawat lepas landas.

Dari pelataran puncak, 17 m lagi ke atas, terdapat lidah api, terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dan berdiameter 6 m, terdiri dari 77 bagian yang disatukan.

Pelataran puncak tugu berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" yang berarti melambangkan Bangsa Indonesia agar dalam berjuang tidak pernah surut sepanjang masa. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 m dan ruang museum sejarah 8 m. Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45x45 m, merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).

Pengunjung kawasan Monas, yang akan menaiki pelataran tugu puncak Monas atau museum, dapat melalui pintu masuk di seputar plaza taman Medan Merdeka, di bagian utara Taman Monas. Di dekatnya terdapat kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kudanya, terbuat dari perunggu seberat 8 ton.

Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario Bross di Indonesia. Melalui terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk pengunjung ke tugu puncak Monas yang berpagar "Bambu Kuning".

Landasan dasar Monas setinggi 3 m, di bawahnya terdapat ruang museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80x80 m, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang.

Pada keempat sisi ruangan terdapat 12 jendela peragaan yang mengabdikan peristiwa sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia. Keseluruhan dinding, tiang dan lantai berlapis marmer. Selain itu, ruang kemerdekaan berbentuk amphitheater yang terletak di dalam cawan tugu Monas, menggambarkan atribut peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kemerdekaan RI, bendera merah putih dan lambang negara dan pintu gapura yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di dalam bangunan Monumen Nasional ini juga terdapat museum dan aula untuk bermeditasi. Para pengunjung dapat naik hingga ke atas dengan menggunakan elevator. Dari atau Monumen Nasional dapat dilihat kota Jakarta dari puncak monumen. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari, mulai pukul 09.00 - 16.00 Waktu Indonesia Barat.

Ringkasan

Aktivis Paskibra Waled

Seluruh isi monas tingginya 132 m. Lidah api di atasnya tingginya 14 m, lantai 3 di monas tingginya 115 m diatas permukaan tanah. Di dalam monas terdapat 51 diorama. Diorama adalah bahasa Sangsekerta yang berarti dio: dalam, rama: gambar. Jadi, diorama berarti gambar di dalam. Biaya pembangunan monas adalah 7 Miliar rupiah dan blia di jual, lidah apinya, bisa mencapai 14 juta rupiah. Monas sampai saat ini belum di resmikan tetapi dibuka untuk umum pada 12 Juni 1975 oleh Gubernur DKI Jakarta : Ali Sadikin.

Wassalaamu'alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh

Kamis, 27 Juni 2002

Rating: 5.0
Reviewer: Kang MPIM theA

Sejarah Indonesia: Lambang Negara Indonesia, Garuda

|
belum ada komentar
 

» Lambang Negara Indonesia

Paskibra Napak Tilas
Sepanjang orang Indonesia, siapa tak kenal burung garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila (Pancasila)? Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu?

Dia adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913. Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia, Arab --walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak --keduanya sekarang di Negeri Belanda.

Syarif menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.

Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II.

Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil daerah istimewa Kalbar dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda.

Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran.

Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan “over commando” kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA.

Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar - karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL.

Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan; Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat marah.
Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara.

Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.

Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.

Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang.

Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan "Bhineka Tunggal Ika".

Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri.

AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “'tidak berjambul”' seperti bentuk sekarang ini.

Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.

Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno.

Tanggal 20 Maret 1940, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974.

Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak.

Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang.


Lion-Of-Field_2002

Anda menyukai isi artikel ini? silahkan membagikannya di:

Anda menyukai isi artikel ini?
bagikan di:
Technorati Favorites Top SEO Sites
 

Daftar Blog

  • //dikabra.wordpress.com/
  • //griyabhana.wordpress.com/

Pencarian Google


Advertisement

Google ads

Referrer

Silahkan lihat di halaman Pengenalan Paskibra

Last Referrer

Sistema Enlaces Reciprocos Get backlinks - link building services where you can get link exchange free 100% to create backlinks for SEO

Member Blogs

Google ads
© 2012 Kreasi Aktivis Staff BTP Angkatan IV/1997, GT XIV/2000.
Lion of Field at Cherbond. Diberdayakan oleh Blogger.
 
 
BackTo Top